Category: Blog

Your blog category

  • Kapolda Sumsel Beberkan Kinerja dan Dukungan untuk Program Pemerintah

    Kapolda Sumsel Beberkan Kinerja dan Dukungan untuk Program Pemerintah


    Jakarta – Polda Sumatera Selatan (Sumsel) mempertegas kontribusi nyata institusi kepolisian dalam mendukung agenda pembangunan nasional melalui penguatan ketahanan pangan, pelayanan publik, kesejahteraan masyarakat, dan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
    Komitmen tersebut dipaparkan dalam Visitasi Penilaian Tahap II Kompolnas Awards Tahun 2026 yang berlangsung di Markas Polda Sumsel, Palembang, hari ini. Polda Sumsel menjadi salah satu dari lima nominator terbaik nasional kategori Polda dalam ajang tersebut.

    Kegiatan visitasi dipimpin langsung oleh Komisioner Kompolnas RI, Gufron serta didampingi Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komisaris Jenderal Polisi, Wahyu Widada. Agenda ini menjadi bagian dari proses penilaian untuk memastikan akurasi data sekaligus melihat secara langsung kesinambungan implementasi berbagai program kepolisian yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.

    Kapolda Sumsel, Irjen, Pol. Sandi Nugroho menegaskan bahwa jajaran Polda Sumsel tidak hanya menjalankan fungsi pemeliharaan kamtibmas, tetapi juga mengambil peran dalam mendukung agenda prioritas Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan kebijakan Polri Presisi yang memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

    Ia menegaskan bahwa penghargaan bukan menjadi tujuan utama dalam pelaksanaan tugas kepolisian. Menurutnya, ukuran keberhasilan Polri yang paling penting adalah manfaat yang dirasakan masyarakat.

    “Penghargaan merupakan kehormatan, namun kehormatan tertinggi bagi Polri adalah saat kehadiran kami dirasakan langsung manfaatnya, menghadirkan keadilan, kemudahan, serta rasa aman bagi seluruh lapisan rakyat,” ujar Sandi dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).

    Adapun salah satu capaian strategis ditunjukkan melalui dukungan terhadap sektor ketahanan pangan. Polda Sumsel menggerakkan pemanfaatan lahan jagung seluas 28.394,16 hektare yang menghasilkan 116.591,92 ton hasil panen. Capaian tersebut menjadi bagian dari kontribusi kepolisian dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

    Komitmen terhadap kesejahteraan masyarakat juga diwujudkan melalui berbagai program sosial dan pembangunan. Jajaran Polda Sumsel telah merampungkan 139 unit bedah rumah, menyediakan 87 sarana air bersih melalui pembangunan sumur bor, mendirikan 81 Jembatan Merah Putih untuk mendukung konektivitas masyarakat, serta menyalurkan bantuan kepada 141.000 warga.

    Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa kehadiran Polri diarahkan tidak hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga memberikan manfaat konkret bagi masyarakat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar, memperkuat konektivitas, melindungi kelompok rentan, serta mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

    Pada aspek pelayanan publik, Polda Sumsel terus memperkuat pemanfaatan teknologi melalui Command Center terpadu dan Layanan Polisi 110. Penguatan tersebut ditujukan untuk mempercepat respons kepolisian, meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan, serta membangun sistem pelayanan publik yang semakin responsif dan terintegrasi.

    Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya menegaskan bahwa seluruh jajaran terus memperkuat peran sebagai pelayan masyarakat melalui pelaksanaan tugas yang profesional dan berorientasi pada kepentingan publik.

    “Kami berkomitmen mendukung penuh program pemerintah demi kesejahteraan masyarakat dan menjaga stabilitas kamtibmas yang kuat demi tegaknya kedaulatan pembangunan nasional,” tegas Nandang.

    Polda Sumsel juga terus memperkuat soliditas dan sinergi bersama TNI, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi melalui konsep ‘Super Team’ menjadi bagian penting dalam memastikan berbagai program strategis dapat berjalan secara terpadu dan memberikan dampak yang lebih luas.

    Melalui penguatan ketahanan pangan, pembangunan sosial, pelayanan publik berbasis teknologi, serta pemeliharaan kamtibmas, Polda Sumsel menegaskan komitmennya untuk menghadirkan Polri yang semakin Presisi, adaptif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    Komitmen tersebut sekaligus menjadi kontribusi Polda Sumsel dalam mendukung agenda pembangunan nasional dan menyongsong terwujudnya Indonesia Emas 2045, dengan keamanan dan kesejahteraan masyarakat sebagai fondasi utama pembangunan yang berkelanjutan.

  • Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning, Saat Tangani Karhutla 80 Hektare

    Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning, Saat Tangani Karhutla 80 Hektare

    Muara Enim – Polda Sumsel menangani karhutla gambut seluas sekitar 80 hektare di Desa Teluk Limau. Pemadaman dilakukan dengan metode spiral dan scanning untuk memburu bara yang masih tersimpan di bawah permukaan.

    Dansatbrimob Polda Sumsel Kombes Pol. James Parlindungan Hutagaol memimpin penanganan bersama personel Satgas Karhutla. Kondisi gambut sedalam satu hingga satu setengah meter membuat bara dapat merambat tanpa terlihat.

    “Penyiraman dilakukan secara spiral dari luar menuju ke dalam. Tujuannya membatasi pergerakan bara di bawah tanah,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 6 September 2026.

    Metode tersebut dimulai dengan penyiraman dari bagian luar area menuju titik kebakaran di bagian dalam. Personel menggunakan jet pump dengan campuran air dan Formula Crossfire Polri selama proses pemadaman.

    Setelah penyiraman, tim membiarkan cairan meresap ke lapisan gambut selama sekitar dua hingga tiga jam. Personel kemudian melakukan scanning untuk menemukan sisa bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.

    “Bara kecil tetap harus ditangani karena dapat terbawa angin dan memicu api di area kering. Setelah perendaman, personel melakukan scanning terhadap titik bara,” katanya.

    Petugas mendatangi lokasi dengan tanda asap putih maupun bara yang masih terlihat. Lapisan gambut kemudian diurai menggunakan garpu sebelum disiram memakai jet shooter backpack.

    Penanganan dibuat lebih terukur dengan membagi kawasan terdampak menjadi tiga klaster berdasarkan aktivitas kebakaran. Pembagian tersebut terdiri atas zona kuning, oranye, dan merah.

    Zona kuning menunjukkan keberadaan asap, sedangkan zona oranye memiliki asap sekaligus bara. Zona merah menunjukkan keberadaan asap, bara, serta api yang muncul hingga permukaan.

    Masing-masing klaster kembali dibagi menjadi empat sektor dengan personel penanggung jawab. Pembagian tersebut memudahkan perkembangan pemadaman dipantau dan dievaluasi secara bertahap.

    Pemadaman tetap dilanjutkan pada malam hari untuk mencari bara yang masih aktif. Kondisi gelap justru membantu personel melihat bara di sela permukaan gambut dengan lebih jelas.

    Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya mengatakan penanganan tidak cukup hanya memadamkan permukaan. Bara yang tersimpan di lapisan gambut juga menjadi perhatian utama petugas.

    “Perhatian bukan hanya api di permukaan, tetapi juga bara yang tersimpan di lapisan gambut. Karena itu penanganan dilakukan secara berlapis,” ujarnya.

    Tahapan tersebut mencakup penyiraman, perendaman, hingga scanning terhadap setiap titik bara yang masih tersisa. Langkah itu ditujukan mencegah api kembali muncul maupun menjalar ke kawasan lainnya.

    Polda Sumsel bersama unsur terkait terus mengoptimalkan personel dan sarana prasarana di lapangan. Pemadaman dilakukan bertahap hingga seluruh kawasan dinyatakan aman dari api dan potensi bara.

  • Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

    Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

    Muara Enim – Polda Sumsel menangani karhutla gambut seluas sekitar 80 hektare di Desa Teluk Limau. Pemadaman dilakukan dengan metode spiral dan scanning untuk memburu bara yang masih tersimpan di bawah permukaan.

    Dansatbrimob Polda Sumsel Kombes Pol. James Parlindungan Hutagaol memimpin penanganan bersama personel Satgas Karhutla. Kondisi gambut sedalam satu hingga satu setengah meter membuat bara dapat merambat tanpa terlihat.

    “Penyiraman dilakukan secara spiral dari luar menuju ke dalam. Tujuannya membatasi pergerakan bara di bawah tanah,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 6 September 2026.

    Metode tersebut dimulai dengan penyiraman dari bagian luar area menuju titik kebakaran di bagian dalam. Personel menggunakan jet pump dengan campuran air dan Formula Crossfire Polri selama proses pemadaman.

    Setelah penyiraman, tim membiarkan cairan meresap ke lapisan gambut selama sekitar dua hingga tiga jam. Personel kemudian melakukan scanning untuk menemukan sisa bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.

    “Bara kecil tetap harus ditangani karena dapat terbawa angin dan memicu api di area kering. Setelah perendaman, personel melakukan scanning terhadap titik bara,” katanya.

    Petugas mendatangi lokasi dengan tanda asap putih maupun bara yang masih terlihat. Lapisan gambut kemudian diurai menggunakan garpu sebelum disiram memakai jet shooter backpack.

    Penanganan dibuat lebih terukur dengan membagi kawasan terdampak menjadi tiga klaster berdasarkan aktivitas kebakaran. Pembagian tersebut terdiri atas zona kuning, oranye, dan merah.

    Zona kuning menunjukkan keberadaan asap, sedangkan zona oranye memiliki asap sekaligus bara. Zona merah menunjukkan keberadaan asap, bara, serta api yang muncul hingga permukaan.

    Masing-masing klaster kembali dibagi menjadi empat sektor dengan personel penanggung jawab. Pembagian tersebut memudahkan perkembangan pemadaman dipantau dan dievaluasi secara bertahap.

    Pemadaman tetap dilanjutkan pada malam hari untuk mencari bara yang masih aktif. Kondisi gelap justru membantu personel melihat bara di sela permukaan gambut dengan lebih jelas.

    Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya mengatakan penanganan tidak cukup hanya memadamkan permukaan. Bara yang tersimpan di lapisan gambut juga menjadi perhatian utama petugas.

    “Perhatian bukan hanya api di permukaan, tetapi juga bara yang tersimpan di lapisan gambut. Karena itu penanganan dilakukan secara berlapis,” ujarnya.

    Tahapan tersebut mencakup penyiraman, perendaman, hingga scanning terhadap setiap titik bara yang masih tersisa. Langkah itu ditujukan mencegah api kembali muncul maupun menjalar ke kawasan lainnya.

    Polda Sumsel bersama unsur terkait terus mengoptimalkan personel dan sarana prasarana di lapangan. Pemadaman dilakukan bertahap hingga seluruh kawasan dinyatakan aman dari api dan potensi bara.

  • Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

    Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

    Muara Enim – Polda Sumsel menangani karhutla gambut seluas sekitar 80 hektare di Desa Teluk Limau. Pemadaman dilakukan dengan metode spiral dan scanning untuk memburu bara yang masih tersimpan di bawah permukaan.

    Dansatbrimob Polda Sumsel Kombes Pol. James Parlindungan Hutagaol memimpin penanganan bersama personel Satgas Karhutla. Kondisi gambut sedalam satu hingga satu setengah meter membuat bara dapat merambat tanpa terlihat.

    “Penyiraman dilakukan secara spiral dari luar menuju ke dalam. Tujuannya membatasi pergerakan bara di bawah tanah,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 6 September 2026.

    Metode tersebut dimulai dengan penyiraman dari bagian luar area menuju titik kebakaran di bagian dalam. Personel menggunakan jet pump dengan campuran air dan Formula Crossfire Polri selama proses pemadaman.

    Setelah penyiraman, tim membiarkan cairan meresap ke lapisan gambut selama sekitar dua hingga tiga jam. Personel kemudian melakukan scanning untuk menemukan sisa bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.

    “Bara kecil tetap harus ditangani karena dapat terbawa angin dan memicu api di area kering. Setelah perendaman, personel melakukan scanning terhadap titik bara,” katanya.

    Petugas mendatangi lokasi dengan tanda asap putih maupun bara yang masih terlihat. Lapisan gambut kemudian diurai menggunakan garpu sebelum disiram memakai jet shooter backpack.

    Penanganan dibuat lebih terukur dengan membagi kawasan terdampak menjadi tiga klaster berdasarkan aktivitas kebakaran. Pembagian tersebut terdiri atas zona kuning, oranye, dan merah.

    Zona kuning menunjukkan keberadaan asap, sedangkan zona oranye memiliki asap sekaligus bara. Zona merah menunjukkan keberadaan asap, bara, serta api yang muncul hingga permukaan.

    Masing-masing klaster kembali dibagi menjadi empat sektor dengan personel penanggung jawab. Pembagian tersebut memudahkan perkembangan pemadaman dipantau dan dievaluasi secara bertahap.

    Pemadaman tetap dilanjutkan pada malam hari untuk mencari bara yang masih aktif. Kondisi gelap justru membantu personel melihat bara di sela permukaan gambut dengan lebih jelas.

    Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya mengatakan penanganan tidak cukup hanya memadamkan permukaan. Bara yang tersimpan di lapisan gambut juga menjadi perhatian utama petugas.

    “Perhatian bukan hanya api di permukaan, tetapi juga bara yang tersimpan di lapisan gambut. Karena itu penanganan dilakukan secara berlapis,” ujarnya.

    Tahapan tersebut mencakup penyiraman, perendaman, hingga scanning terhadap setiap titik bara yang masih tersisa. Langkah itu ditujukan mencegah api kembali muncul maupun menjalar ke kawasan lainnya.

    Polda Sumsel bersama unsur terkait terus mengoptimalkan personel dan sarana prasarana di lapangan. Pemadaman dilakukan bertahap hingga seluruh kawasan dinyatakan aman dari api dan potensi bara.

  • Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

    Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

    Muara Enim – Polda Sumsel menangani karhutla gambut seluas sekitar 80 hektare di Desa Teluk Limau. Pemadaman dilakukan dengan metode spiral dan scanning untuk memburu bara yang masih tersimpan di bawah permukaan.

    Dansatbrimob Polda Sumsel Kombes Pol. James Parlindungan Hutagaol memimpin penanganan bersama personel Satgas Karhutla. Kondisi gambut sedalam satu hingga satu setengah meter membuat bara dapat merambat tanpa terlihat.

    “Penyiraman dilakukan secara spiral dari luar menuju ke dalam. Tujuannya membatasi pergerakan bara di bawah tanah,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 6 September 2026.

    Metode tersebut dimulai dengan penyiraman dari bagian luar area menuju titik kebakaran di bagian dalam. Personel menggunakan jet pump dengan campuran air dan Formula Crossfire Polri selama proses pemadaman.

    Setelah penyiraman, tim membiarkan cairan meresap ke lapisan gambut selama sekitar dua hingga tiga jam. Personel kemudian melakukan scanning untuk menemukan sisa bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.

    “Bara kecil tetap harus ditangani karena dapat terbawa angin dan memicu api di area kering. Setelah perendaman, personel melakukan scanning terhadap titik bara,” katanya.

    Petugas mendatangi lokasi dengan tanda asap putih maupun bara yang masih terlihat. Lapisan gambut kemudian diurai menggunakan garpu sebelum disiram memakai jet shooter backpack.

    Penanganan dibuat lebih terukur dengan membagi kawasan terdampak menjadi tiga klaster berdasarkan aktivitas kebakaran. Pembagian tersebut terdiri atas zona kuning, oranye, dan merah.

    Zona kuning menunjukkan keberadaan asap, sedangkan zona oranye memiliki asap sekaligus bara. Zona merah menunjukkan keberadaan asap, bara, serta api yang muncul hingga permukaan.

    Masing-masing klaster kembali dibagi menjadi empat sektor dengan personel penanggung jawab. Pembagian tersebut memudahkan perkembangan pemadaman dipantau dan dievaluasi secara bertahap.

    Pemadaman tetap dilanjutkan pada malam hari untuk mencari bara yang masih aktif. Kondisi gelap justru membantu personel melihat bara di sela permukaan gambut dengan lebih jelas.

    Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya mengatakan penanganan tidak cukup hanya memadamkan permukaan. Bara yang tersimpan di lapisan gambut juga menjadi perhatian utama petugas.

    “Perhatian bukan hanya api di permukaan, tetapi juga bara yang tersimpan di lapisan gambut. Karena itu penanganan dilakukan secara berlapis,” ujarnya.

    Tahapan tersebut mencakup penyiraman, perendaman, hingga scanning terhadap setiap titik bara yang masih tersisa. Langkah itu ditujukan mencegah api kembali muncul maupun menjalar ke kawasan lainnya.

    Polda Sumsel bersama unsur terkait terus mengoptimalkan personel dan sarana prasarana di lapangan. Pemadaman dilakukan bertahap hingga seluruh kawasan dinyatakan aman dari api dan potensi bara.

  • Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

    Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

    Muara Enim – Polda Sumsel menangani karhutla gambut seluas sekitar 80 hektare di Desa Teluk Limau. Pemadaman dilakukan dengan metode spiral dan scanning untuk memburu bara yang masih tersimpan di bawah permukaan.

    Dansatbrimob Polda Sumsel Kombes Pol. James Parlindungan Hutagaol memimpin penanganan bersama personel Satgas Karhutla. Kondisi gambut sedalam satu hingga satu setengah meter membuat bara dapat merambat tanpa terlihat.

    “Penyiraman dilakukan secara spiral dari luar menuju ke dalam. Tujuannya membatasi pergerakan bara di bawah tanah,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 6 September 2026.

    Metode tersebut dimulai dengan penyiraman dari bagian luar area menuju titik kebakaran di bagian dalam. Personel menggunakan jet pump dengan campuran air dan Formula Crossfire Polri selama proses pemadaman.

    Setelah penyiraman, tim membiarkan cairan meresap ke lapisan gambut selama sekitar dua hingga tiga jam. Personel kemudian melakukan scanning untuk menemukan sisa bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.

    “Bara kecil tetap harus ditangani karena dapat terbawa angin dan memicu api di area kering. Setelah perendaman, personel melakukan scanning terhadap titik bara,” katanya.

    Petugas mendatangi lokasi dengan tanda asap putih maupun bara yang masih terlihat. Lapisan gambut kemudian diurai menggunakan garpu sebelum disiram memakai jet shooter backpack.

    Penanganan dibuat lebih terukur dengan membagi kawasan terdampak menjadi tiga klaster berdasarkan aktivitas kebakaran. Pembagian tersebut terdiri atas zona kuning, oranye, dan merah.

    Zona kuning menunjukkan keberadaan asap, sedangkan zona oranye memiliki asap sekaligus bara. Zona merah menunjukkan keberadaan asap, bara, serta api yang muncul hingga permukaan.

    Masing-masing klaster kembali dibagi menjadi empat sektor dengan personel penanggung jawab. Pembagian tersebut memudahkan perkembangan pemadaman dipantau dan dievaluasi secara bertahap.

    Pemadaman tetap dilanjutkan pada malam hari untuk mencari bara yang masih aktif. Kondisi gelap justru membantu personel melihat bara di sela permukaan gambut dengan lebih jelas.

    Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya mengatakan penanganan tidak cukup hanya memadamkan permukaan. Bara yang tersimpan di lapisan gambut juga menjadi perhatian utama petugas.

    “Perhatian bukan hanya api di permukaan, tetapi juga bara yang tersimpan di lapisan gambut. Karena itu penanganan dilakukan secara berlapis,” ujarnya.

    Tahapan tersebut mencakup penyiraman, perendaman, hingga scanning terhadap setiap titik bara yang masih tersisa. Langkah itu ditujukan mencegah api kembali muncul maupun menjalar ke kawasan lainnya.

    Polda Sumsel bersama unsur terkait terus mengoptimalkan personel dan sarana prasarana di lapangan. Pemadaman dilakukan bertahap hingga seluruh kawasan dinyatakan aman dari api dan potensi bara.

  • Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

    Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

    Muara Enim – Polda Sumsel menangani karhutla gambut seluas sekitar 80 hektare di Desa Teluk Limau. Pemadaman dilakukan dengan metode spiral dan scanning untuk memburu bara yang masih tersimpan di bawah permukaan.

    Dansatbrimob Polda Sumsel Kombes Pol. James Parlindungan Hutagaol memimpin penanganan bersama personel Satgas Karhutla. Kondisi gambut sedalam satu hingga satu setengah meter membuat bara dapat merambat tanpa terlihat.

    “Penyiraman dilakukan secara spiral dari luar menuju ke dalam. Tujuannya membatasi pergerakan bara di bawah tanah,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 6 September 2026.

    Metode tersebut dimulai dengan penyiraman dari bagian luar area menuju titik kebakaran di bagian dalam. Personel menggunakan jet pump dengan campuran air dan Formula Crossfire Polri selama proses pemadaman.

    Setelah penyiraman, tim membiarkan cairan meresap ke lapisan gambut selama sekitar dua hingga tiga jam. Personel kemudian melakukan scanning untuk menemukan sisa bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.

    “Bara kecil tetap harus ditangani karena dapat terbawa angin dan memicu api di area kering. Setelah perendaman, personel melakukan scanning terhadap titik bara,” katanya.

    Petugas mendatangi lokasi dengan tanda asap putih maupun bara yang masih terlihat. Lapisan gambut kemudian diurai menggunakan garpu sebelum disiram memakai jet shooter backpack.

    Penanganan dibuat lebih terukur dengan membagi kawasan terdampak menjadi tiga klaster berdasarkan aktivitas kebakaran. Pembagian tersebut terdiri atas zona kuning, oranye, dan merah.

    Zona kuning menunjukkan keberadaan asap, sedangkan zona oranye memiliki asap sekaligus bara. Zona merah menunjukkan keberadaan asap, bara, serta api yang muncul hingga permukaan.

    Masing-masing klaster kembali dibagi menjadi empat sektor dengan personel penanggung jawab. Pembagian tersebut memudahkan perkembangan pemadaman dipantau dan dievaluasi secara bertahap.

    Pemadaman tetap dilanjutkan pada malam hari untuk mencari bara yang masih aktif. Kondisi gelap justru membantu personel melihat bara di sela permukaan gambut dengan lebih jelas.

    Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya mengatakan penanganan tidak cukup hanya memadamkan permukaan. Bara yang tersimpan di lapisan gambut juga menjadi perhatian utama petugas.

    “Perhatian bukan hanya api di permukaan, tetapi juga bara yang tersimpan di lapisan gambut. Karena itu penanganan dilakukan secara berlapis,” ujarnya.

    Tahapan tersebut mencakup penyiraman, perendaman, hingga scanning terhadap setiap titik bara yang masih tersisa. Langkah itu ditujukan mencegah api kembali muncul maupun menjalar ke kawasan lainnya.

    Polda Sumsel bersama unsur terkait terus mengoptimalkan personel dan sarana prasarana di lapangan. Pemadaman dilakukan bertahap hingga seluruh kawasan dinyatakan aman dari api dan potensi bara.

  • Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

    Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

    Muara Enim – Polda Sumsel menangani karhutla gambut seluas sekitar 80 hektare di Desa Teluk Limau. Pemadaman dilakukan dengan metode spiral dan scanning untuk memburu bara yang masih tersimpan di bawah permukaan.

    Dansatbrimob Polda Sumsel Kombes Pol. James Parlindungan Hutagaol memimpin penanganan bersama personel Satgas Karhutla. Kondisi gambut sedalam satu hingga satu setengah meter membuat bara dapat merambat tanpa terlihat.

    “Penyiraman dilakukan secara spiral dari luar menuju ke dalam. Tujuannya membatasi pergerakan bara di bawah tanah,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 6 September 2026.

    Metode tersebut dimulai dengan penyiraman dari bagian luar area menuju titik kebakaran di bagian dalam. Personel menggunakan jet pump dengan campuran air dan Formula Crossfire Polri selama proses pemadaman.

    Setelah penyiraman, tim membiarkan cairan meresap ke lapisan gambut selama sekitar dua hingga tiga jam. Personel kemudian melakukan scanning untuk menemukan sisa bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.

    “Bara kecil tetap harus ditangani karena dapat terbawa angin dan memicu api di area kering. Setelah perendaman, personel melakukan scanning terhadap titik bara,” katanya.

    Petugas mendatangi lokasi dengan tanda asap putih maupun bara yang masih terlihat. Lapisan gambut kemudian diurai menggunakan garpu sebelum disiram memakai jet shooter backpack.

    Penanganan dibuat lebih terukur dengan membagi kawasan terdampak menjadi tiga klaster berdasarkan aktivitas kebakaran. Pembagian tersebut terdiri atas zona kuning, oranye, dan merah.

    Zona kuning menunjukkan keberadaan asap, sedangkan zona oranye memiliki asap sekaligus bara. Zona merah menunjukkan keberadaan asap, bara, serta api yang muncul hingga permukaan.

    Masing-masing klaster kembali dibagi menjadi empat sektor dengan personel penanggung jawab. Pembagian tersebut memudahkan perkembangan pemadaman dipantau dan dievaluasi secara bertahap.

    Pemadaman tetap dilanjutkan pada malam hari untuk mencari bara yang masih aktif. Kondisi gelap justru membantu personel melihat bara di sela permukaan gambut dengan lebih jelas.

    Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya mengatakan penanganan tidak cukup hanya memadamkan permukaan. Bara yang tersimpan di lapisan gambut juga menjadi perhatian utama petugas.

    “Perhatian bukan hanya api di permukaan, tetapi juga bara yang tersimpan di lapisan gambut. Karena itu penanganan dilakukan secara berlapis,” ujarnya.

    Tahapan tersebut mencakup penyiraman, perendaman, hingga scanning terhadap setiap titik bara yang masih tersisa. Langkah itu ditujukan mencegah api kembali muncul maupun menjalar ke kawasan lainnya.

    Polda Sumsel bersama unsur terkait terus mengoptimalkan personel dan sarana prasarana di lapangan. Pemadaman dilakukan bertahap hingga seluruh kawasan dinyatakan aman dari api dan potensi bara.

  • Mitigasi Karhutla Secara Terintegrasi, Polda Sumsel Terjunkan 1.000 Personel Verifikasi 623 Titik Pantauan

    Mitigasi Karhutla Secara Terintegrasi, Polda Sumsel Terjunkan 1.000 Personel Verifikasi 623 Titik Pantauan

    Polda Sumatera Selatan terus memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pemanfaatan teknologi dan verifikasi langsung di lapangan.

    Sistem Terpadu Operasi Karhutla (Stop Karhutla) menjadi instrumen pemantauan yang digunakan jajaran untuk menindaklanjuti setiap indikasi titik panas secara cepat dan terukur.

    Berdasarkan laporan hasil pengecekan darat (ground check) melalui aplikasi Stop Karhutla per Jumat, 4 September 2026, tercatat 623 titik pantauan di wilayah Sumatera Selatan.

    Dari jumlah tersebut, 569 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah (medium), 54 titik pada tingkat kepercayaan rendah (low), dan tidak terdapat titik dengan tingkat kepercayaan tinggi (high).

    Dari keseluruhan titik pantauan tersebut, sebanyak 306 titik telah ditindaklanjuti oleh tim satgas melalui verifikasi faktual di lapangan.

    Hasil pengecekan terhadap 306 titik tersebut mengonfirmasi bahwa titik yang ditindaklanjuti merupakan anomali panas non-kebakaran hutan, melainkan berada pada area aktivitas industri berupa penumpukan batu bara (stockpile batubara).

    Sementara itu, sebanyak 317 titik lainnya masih dalam proses verifikasi dan pemantauan intensif oleh tim patroli satuan wilayah. Proses tersebut terus dilakukan untuk memastikan kondisi faktual di lapangan dan menentukan langkah penanganan sesuai hasil pengecekan.

    Sebaran titik pantauan tercatat di sejumlah wilayah, antara lain Musi Banyuasin sebanyak 152 titik, Ogan Komering Ilir 118 titik, Banyuasin 90 titik, Muara Enim 57 titik, dan Ogan Ilir 43 titik.

    Data tersebut menjadi dasar bagi jajaran untuk menentukan prioritas pengecekan dan memperkuat patroli pada wilayah yang memerlukan perhatian.

    Untuk mempercepat proses verifikasi, Polda Sumsel telah meningkatkan kekuatan personel operasi dari 548 menjadi 1.000 personel gabungan.

    Kekuatan tersebut disiagakan melalui 20 posko operasi terpadu guna memperkuat pemantauan, ground check, patroli, dan respons terhadap potensi karhutla.

    Karo Ops Polda Sumatera Selatan Muhammad Anis Prasetio Santoso menegaskan bahwa jajaran bergerak aktif menindaklanjuti setiap data yang masuk melalui sistem Stop Karhutla.

    “Kami bergerak aktif dan cepat merespons setiap data yang masuk di aplikasi Stop Karhutla. Dari 623 titik pantauan, sebanyak 306 titik sudah kami tindak lanjuti dan terverifikasi di lapangan sebagai area stockpile batubara, bukan titik api kebakaran. Dengan penebalan kekuatan hingga 1.000 personel di 20 posko siaga, sisa titik lainnya terus kami telusuri secara intensif agar masyarakat tetap merasa aman, tenang, dan terlindungi,” ujar Anis.

    Menurutnya, proses ground check menjadi bagian penting dalam memastikan data pemantauan berbasis teknologi dapat dikonfirmasi dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

    Dengan demikian, setiap indikasi panas dapat ditindaklanjuti berdasarkan fakta dan tidak semata-mata berdasarkan hasil deteksi sistem.

    Penguatan tersebut juga dilakukan untuk memastikan apabila ditemukan titik api, personel dapat segera mengambil langkah penanganan sehingga potensi kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas. Pemantauan dan verifikasi terus dilakukan terhadap titik-titik yang belum selesai diperiksa.

    Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Nandang Mu’min Wijaya mengatakan konsistensi pemantauan dan verifikasi merupakan bagian dari komitmen Polda Sumsel dalam menjaga keamanan masyarakat sekaligus memperkuat upaya pencegahan karhutla.

    “Polda Sumsel berkomitmen penuh mengawal agenda prioritas pemerintah dalam pengendalian karhutla dan menjaga stabilitas kamtibmas. Kehadiran personel dan transparansi pemantauan digital ini membuktikan situasi Sumsel sangat terkendali. Kami mengimbau masyarakat untuk terus menjaga situasi kondusif ini dan bersama-sama menolak praktik pembukaan lahan dengan cara membakar,” tegas Nandang.

    Polda Sumsel terus mengintegrasikan pemantauan berbasis teknologi dengan pengecekan faktual di lapangan. Pendekatan tersebut memungkinkan jajaran bergerak berdasarkan data, sekaligus memastikan setiap indikasi yang terpantau dapat dikonfirmasi secara langsung.

    Di sisi lain, upaya mitigasi terus berjalan melalui patroli wilayah, penguatan posko, kesiapsiagaan personel, serta koordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, instansi terkait, dan masyarakat.

    Kolaborasi tersebut diperlukan agar pencegahan dan penanganan karhutla dapat dilakukan secara menyeluruh.

    Melalui percepatan ground check, penebalan kekuatan hingga 1.000 personel, pengoperasian 20 posko terpadu, serta pemanfaatan sistem Stop Karhutla, Polda Sumsel memastikan penanganan setiap potensi karhutla dilakukan secara profesional, terukur, dan berkelanjutan.

    Polda Sumsel mengajak seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran.

    Sinergi antara teknologi, personel di lapangan, dan kepedulian masyarakat menjadi kunci dalam menjaga Sumatera Selatan tetap aman dari ancaman karhutla.

  • Laksanakan Mitigasi Karhutla Terintegrasi, Polda Sumsel Terjunkan 1.000 Personel Verifikasi 623 Titik Pantauan

    Laksanakan Mitigasi Karhutla Terintegrasi, Polda Sumsel Terjunkan 1.000 Personel Verifikasi 623 Titik Pantauan

    Polda Sumatera Selatan terus memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pemanfaatan teknologi dan verifikasi langsung di lapangan.

    Sistem Terpadu Operasi Karhutla (Stop Karhutla) menjadi instrumen pemantauan yang digunakan jajaran untuk menindaklanjuti setiap indikasi titik panas secara cepat dan terukur.

    Berdasarkan laporan hasil pengecekan darat (ground check) melalui aplikasi Stop Karhutla per Jumat, 4 September 2026, tercatat 623 titik pantauan di wilayah Sumatera Selatan.

    Dari jumlah tersebut, 569 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah (medium), 54 titik pada tingkat kepercayaan rendah (low), dan tidak terdapat titik dengan tingkat kepercayaan tinggi (high).

    Dari keseluruhan titik pantauan tersebut, sebanyak 306 titik telah ditindaklanjuti oleh tim satgas melalui verifikasi faktual di lapangan.

    Hasil pengecekan terhadap 306 titik tersebut mengonfirmasi bahwa titik yang ditindaklanjuti merupakan anomali panas non-kebakaran hutan, melainkan berada pada area aktivitas industri berupa penumpukan batu bara (stockpile batubara).

    Sementara itu, sebanyak 317 titik lainnya masih dalam proses verifikasi dan pemantauan intensif oleh tim patroli satuan wilayah. Proses tersebut terus dilakukan untuk memastikan kondisi faktual di lapangan dan menentukan langkah penanganan sesuai hasil pengecekan.

    Sebaran titik pantauan tercatat di sejumlah wilayah, antara lain Musi Banyuasin sebanyak 152 titik, Ogan Komering Ilir 118 titik, Banyuasin 90 titik, Muara Enim 57 titik, dan Ogan Ilir 43 titik.

    Data tersebut menjadi dasar bagi jajaran untuk menentukan prioritas pengecekan dan memperkuat patroli pada wilayah yang memerlukan perhatian.

    Untuk mempercepat proses verifikasi, Polda Sumsel telah meningkatkan kekuatan personel operasi dari 548 menjadi 1.000 personel gabungan.

    Kekuatan tersebut disiagakan melalui 20 posko operasi terpadu guna memperkuat pemantauan, ground check, patroli, dan respons terhadap potensi karhutla.

    Karo Ops Polda Sumatera Selatan Muhammad Anis Prasetio Santoso menegaskan bahwa jajaran bergerak aktif menindaklanjuti setiap data yang masuk melalui sistem Stop Karhutla.

    “Kami bergerak aktif dan cepat merespons setiap data yang masuk di aplikasi Stop Karhutla. Dari 623 titik pantauan, sebanyak 306 titik sudah kami tindak lanjuti dan terverifikasi di lapangan sebagai area stockpile batubara, bukan titik api kebakaran. Dengan penebalan kekuatan hingga 1.000 personel di 20 posko siaga, sisa titik lainnya terus kami telusuri secara intensif agar masyarakat tetap merasa aman, tenang, dan terlindungi,” ujar Anis.

    Menurutnya, proses ground check menjadi bagian penting dalam memastikan data pemantauan berbasis teknologi dapat dikonfirmasi dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

    Dengan demikian, setiap indikasi panas dapat ditindaklanjuti berdasarkan fakta dan tidak semata-mata berdasarkan hasil deteksi sistem.

    Penguatan tersebut juga dilakukan untuk memastikan apabila ditemukan titik api, personel dapat segera mengambil langkah penanganan sehingga potensi kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas. Pemantauan dan verifikasi terus dilakukan terhadap titik-titik yang belum selesai diperiksa.

    Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Nandang Mu’min Wijaya mengatakan konsistensi pemantauan dan verifikasi merupakan bagian dari komitmen Polda Sumsel dalam menjaga keamanan masyarakat sekaligus memperkuat upaya pencegahan karhutla.

    “Polda Sumsel berkomitmen penuh mengawal agenda prioritas pemerintah dalam pengendalian karhutla dan menjaga stabilitas kamtibmas. Kehadiran personel dan transparansi pemantauan digital ini membuktikan situasi Sumsel sangat terkendali. Kami mengimbau masyarakat untuk terus menjaga situasi kondusif ini dan bersama-sama menolak praktik pembukaan lahan dengan cara membakar,” tegas Nandang.

    Polda Sumsel terus mengintegrasikan pemantauan berbasis teknologi dengan pengecekan faktual di lapangan. Pendekatan tersebut memungkinkan jajaran bergerak berdasarkan data, sekaligus memastikan setiap indikasi yang terpantau dapat dikonfirmasi secara langsung.

    Di sisi lain, upaya mitigasi terus berjalan melalui patroli wilayah, penguatan posko, kesiapsiagaan personel, serta koordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, instansi terkait, dan masyarakat.

    Kolaborasi tersebut diperlukan agar pencegahan dan penanganan karhutla dapat dilakukan secara menyeluruh.

    Melalui percepatan ground check, penebalan kekuatan hingga 1.000 personel, pengoperasian 20 posko terpadu, serta pemanfaatan sistem Stop Karhutla, Polda Sumsel memastikan penanganan setiap potensi karhutla dilakukan secara profesional, terukur, dan berkelanjutan.

    Polda Sumsel mengajak seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran.

    Sinergi antara teknologi, personel di lapangan, dan kepedulian masyarakat menjadi kunci dalam menjaga Sumatera Selatan tetap aman dari ancaman karhutla.